Cibinong, 3 Januari 2026 — Harga daging sapi di Indonesia mengalami lonjakan signifikan sejak awal tahun 2026 dan diprediksi akan terus meningkat hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri. Saat ini, harga eceran daging di pasar tradisional mencapai Rp.135.000/kg - Rp.140.000/kg dengan harga sapi hidup berada di kisaran Rp53.000 per kilogram dan diperkirakan dapat mencapai Rp58.500 per kilogram dalam beberapa bulan ke depan.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius, khususnya bagi pedagang pasar, pelaku usaha daging sapi, serta masyarakat sebagai konsumen akhir.
Asosiasi Pedagang Daging Sapi dan Pelaku Cibinong (APDSPC) menilai kenaikan harga daging sapi nasional sangat dipengaruhi oleh melonjaknya harga sapi bakalan impor dari Australia.
seperti kita ketahui bersama jika sejak 2025 negara australia menghadapi lonjakan permintaan sapi hidup dan daging beku di karenakan sudah mulai memiliki pangsa pasar di China, Amerika dan negara lain karena tren sapi australia yang menggunakan sistem peternakan grassfed yaitu memberi pakan sapi secara alami di ladang dan savana , yang memiliki kualitas daging yang lebih alami dan mengandung banyak omega3 , Hal ini yang membuat negara lain menyukai daging sapi australia karena tren faktor kesehatan
Harga sapi bakalan yang sebelumnya berada di kisaran USD 2,75 per kilogram, kini naik signifikan hingga mencapai USD 3,2 per kilogram. Kenaikan harga bahan baku sapi ini secara langsung berdampak pada biaya produksi di tingkat feedlot di Indonesia.
Di sisi lain, pihak feedlot juga harus menghadapi kenaikan harga bahan baku pakan ternak, biaya operasional, serta tekanan biaya logistik, sehingga mau tidak mau harus melakukan perhitungan ulang terhadap harga jual.
Sebagai asosiasi yang menaungi pedagang kelas bawah, mulai dari pedagang eceran pasar tradisional, bandar pembelanja sapi ke feedlot, hingga pelaku usaha yang berpengalaman memiliki dan mengelola peternakan sendiri, kami sudah menekuni usaha ini selama puluhan tahun sampai sekarang setiap hari , APDSPC memahami kondisi ini secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Kenaikan harga daging sapi saat ini tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pihak feedlot.
Lonjakan harga merupakan dampak dari kondisi global dan meningkatnya biaya produksi, bukan akibat kebijakan sepihak dari satu mata rantai usaha.
Kenaikan harga daging sapi menjelang Idul Fitri menempatkan pedagang pasar dan pelaku usaha kecil dalam posisi sulit, antara lain:
Margin keuntungan semakin menipis
Daya beli masyarakat menurun
Risiko penurunan volume penjualan
Tekanan harga di tingkat pasar tradisional
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa solusi, dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas pasokan dan harga daging sapi nasional pada puncak konsumsi Idul Fitri.
APDSPC Minta Solusi Gamblang dan Nyata dari Pemerintah
Melalui siaran pers ini, APDSPC secara terbuka meminta pemerintah hadir dengan solusi yang jelas dan konkret, bukan sekadar wacana, antara lain:
Stabilisasi harga sapi bakalan impor
Pengendalian dan subsidi bahan baku pakan ternak
Evaluasi kebijakan impor sapi dan daging sapi
Dukungan nyata terhadap peternakan sapi lokal
Pengamanan stok daging sapi nasional menjelang Idul Fitri
Dialog terbuka antara pemerintah, feedlot, pedagang, dan peternak
Langkah-langkah tersebut dinilai penting untuk melindungi pedagang kecil, menjaga daya beli masyarakat, serta memastikan ketersediaan daging sapi dengan harga yang wajar.
Kesimpulan
Kenaikan harga daging sapi di awal tahun 2026 hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri adalah persoalan serius yang membutuhkan kebijakan terpadu dan keberpihakan nyata. APDSPC berharap pemerintah segera mengambil langkah strategis agar seluruh mata rantai usaha dapat bertahan dan masyarakat tetap mendapatkan akses protein hewani yang layak.